Tampilkan postingan dengan label Dunia Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Puisi. Tampilkan semua postingan

06 Oktober 2012
















Walaupun harus memahami kenyataan
Tetap saja aku harus bertahan
Sempat berfikir dan berkata,, ini berakhir
Tetap saja aku harus bertahan
Disinilah aku hidup tentu saja tak sampai mati

Lelah tentu saja
Marah apalagi
Apa iya ini pertanda
Apa iya ini sudah hancur
Apa iya waktuku telah habis
Apa iya masih bisa
Tetap saja aku harus bertahan

Biasanya ini akan mudah
Sangat malah

Hidup impian tunggulah
Terimalah apapun hasilnya
Tak semua rencana akan jadi emas
Sungguh aku sudah puas apapun itu




  


28 Juni 2010

Puncak Jaya Semua Kehidupan

Bertahan merana termakan waktu
Menusuk hari dengan keringat
Sebutir asa yang di dapat
Berharap akan menjadi tinggi
Puncak kejayaan hidup

Keadaan dan nasib menentukan
Terasa sakit,keras dan mengharukan
Jiwa raganya hanya untuk sesuatu
Kebanggaan,rasa puas bila diraih
Situasi yang masuk akal sama sekali tidak gila

Menuntut diri untuk maju
Merangkak perlahan ke puncak
Hatinya terluka karena terperosok
Seberkas senyuman yang terlihat sepanjang jalan
Bukan hati saja tulangnyapun sumringah

Layaknya kereta api dan gerobak usang
Impian dikalahkan usia
Ditiup angin tubuh itu melayang terbanting keras
Tujuannya bertahan tak kurang suatu apapun
Ketika tubuh usang terpendam tanah,impian dan harapannya mencari tubuh baru 'semangat baru !

10 Juni 2010

Uang Panas Duduk Dikursi Panas

Siapa dia saat ini
Rupanya sama lain sifat,aneh
Ingatkah ia pada ku dan kami semua
Berubah sejak ia punya kursi panas

Katakan padanya wahai setan,aku rindu
Sahabat sadarlah
Semuanya' apa yang paling utama
Ingat dan renungkan
Sungguh aku rindu

Perjuangan yang kau korbankan
Pembangunan yang kau idamkan
Keadilan yang kau ingin
Kemana,hilang semua
Hanya gara gara uang

04 Juni 2010

Modal Gigi Modal Cepat Kembali

Lupa dia lupa
Janjinya lenyap ditiup angin sejuk
Hilang tanpa hambatan dan beban
Ciri khas dan bakat memikat

Janji begitu besar,berbobot dan menyejukkan sanubari
Sekarang batang hidungnnya hilang apalagi gigi kuningnnya
Apa yang dipikirkannya
Menghitung untung rugikah dan kapan modal kampanyenya cepat kembali

Uang dan uang
Dia lupa
Ternyata dan tak heran
Inilah tabiat mereka
Cerdas yang menjijikkan
Dihukum mati saja belum cukup

08 Oktober 2009

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

[Image]
Tak Diragukan lagi Chairil Anwar adalah seorang pembuat puisi yang handal,apalagi disaat ia membacanya dihalayak ramai,wow sungguh mengagumkan,berikut sebagian kecil puisinya yg saya dapat dari paman google :

Derai Derai Cemara
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Doa
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Penerimaan
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Krawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Malam
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
Thermopylae?
jagal tidak dikenal ?
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Sajak Putih
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
 
Cintaku Jauh Di Pulau
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

Senja Di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Hampa
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

28 September 2009

Sebelum Kiamat Tiba

[Image]
Sebelum Kiamat Tiba

Bergerak maju menatap tembok
Itulah kita sekarang
Kesempatan besar keinginan kuat
Apa daya ada yang menghalangi

Bicara .. mengadu pada siapa
Siapa yang harus dipercaya
Aku,kalian dan mereka
Meragukan sekali

Menarilah selagi sempat
Tertawalah sebelum mulutmu dijahit
Bicarakan semua sebelum terdiam

Harapan ada selalu
Entahlah kapan merasakannya
Semoga sebelum kiamat tiba

23 September 2009

Kumpulan Puisi terbaik Saya

Butuh waktu satu tahun untuk membuat sederetan puisi ini,..sungguh saya orang yang tidak berbakat tapi mencoba untuk sukses,. semoga puisi ini bisa go internasional,. salam puisi cuy !..

Amnesia

Pangkatnya telah naik
Begitu pula gaji
Hanya moralnya yang turun
Bahkan tekena penyakit amnesia
Ia lupa siapa rakyatnya
Amat disayangkan
Pendidikannya tinggi
Mungkin pengetahuan agamanya kurang
Salahkan orang tuanya
Tidak mengajarkannya mengaji
 
Bujangan
Hidup membujang, tak ada uang tak sayang,lai lai lai lai akulah si jablai
Seorang pemuda yang lagi di mabuk cinta,
Oh my darling
Datanglah padaku,akulah sang pangeran,
Cintaku ….

Hari ini aku pengangguran besok jadi direktur
percayalah,percayalah jadilah milkku untuk selamanya
apa kurangnya diriku,gigiku hanya pacul satu,selebihnya tak ada yang kurang
apalagi yang kau pikirkan terimalah oh sang peri surga
tekutuklah kau bila menolakku
yang tadinya jadi direktur bila kau sambut loveku
kau tolak turun pangkatku jadi cleaning sevice.
 
Kiamat Udah Dekat
siapkah kita bila hari itu tiba
sungguh tak bisa dibayangkan
ketika terompet pemecah gendang telinga itu bersuara
sungguh habislah kita

apa yang telah kita lakukan di dunia
mudah mudahan diisi dengan hal hal yang baik
sungguh malang nasib orang tak beriman
rasa sesal datang belakangan

saat itu harta tak berarti
apalagi air mata

kiamat sudah dekat
kata dedy mizwar dalam filmnya
memang betul kiamat sudah dekat
bahkan makin dekat
tidak mungkin kiamat makin jauh
kata dedy mizwar dalam filmnya

manusia
semoga banyak manusia yang masuk surga
masih ada waktu untuk kesana
dia maha pengampun
allah sang pencipta
jangan sekali kali meragukan dia
allahuakbar ... !
 
Masih Dijajah
sungguh pemandangan yang aneh kata pak tua seorang veteran perang
tempat ini sudah berubah
bekas mayat temannya ditutup gedung raksasa
tepat didepannya melintas orang asing mirip penjajah
masuk dengan santai ke gedung
sakit dan sedih hatinya dia mengira negri ini masih dijajah

dasar orang tua jaman dulu tidak tahu zaman berubah
kita sudah merdeka secara tertulis
dan masih dijajah secara lisan
itu kata yang tepat untuk sekarang

Dialah Pemimpin
Ingat aku pemimpinnya
Kau jangan mengaturku
Aku tahu yang mesti dilakukan
Kalian nurut saja
Bersabarlah
Masalah Negara ini banyak
Bukan mengurusi perutmu saja
Bersabarlah sekali lagi bersabar
Hingga masa jabatanku habis